Pilih Laman

Indonesia menempati peringkat ke-4 sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. BPS memprediksikan, terdapat 271 juta jiwa di Indonesia pada tahun 2020. Sadar atau tidak, setiap individu pasti menghasilkan sampah setiap harinya. MenLHK memperkirakan pada tahun 2020 terdapat 67,8 juta ton timbulan sampah. Apabila masyarakat masih mempertahankan gaya hidup konsumtif tanpa memerhatikan hal ini, tak ayal angka ini akan terus melonjak setiap tahunnya.

Secara umum memang paradigma pengelolaan sampah di Indonesia masih terbatas pada sistem “kumpul-angkut-buang”. Dengan jarak angkut yang relatif jauh, sayangnya pengolahan di TPA pun sangat jauh dari kata optimal. Hal ini terbukti dari gunung-gunung sampah yang tinggi menjulang hingga mencapai 40-50 meter (Pikiran Rakyat, 2020).

Operasional TPA Sarimukti Berakhir 2020, Bandung Barat Pesimistis Bisa  Bangun TPA Lokal | Teras Jabar

TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat. (Pikiran Rakyat, 2018)

Tumpukan sampah ini bak bom waktu yang siap meledak kapan saja. Sebagaimana ledakan di TPA Leuwigajah yang terjadi pada 2005 silam. Keterlibatan aktif masyarakat, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan juga media, diharapkan dapat menjadi gerbang penyelesaian isu persampahan Indonesia.

GOL sebagai perusahaan teknologi pengolahan limbah berbasis riset sedang mengambil peran dalam hal ini. Pengolahan di hilir (TPA)  tak hanya berat dari segi teknis, tetapi juga dari segi ekonomi, terutama dari aktivitas pengangkutan yang menghabiskan biaya tertinggi.

Konsep GOL Lab, yaitu tempar pengelolaan sampah terpadu ala GOL.

Maka dari itu, GOL gencar memperkenalkan GOL Lab, yaitu tempat pengolahan sampah terpadu dengan konsep mengelola sampah sejak dini (di hulu). Menggunakan dua teknologi terkini karya anak bangsa, yakni hidrotermal dan pirolisis, jenis sampah yang diolah pun menjadi beragam baik organik maupun anorganik (plastik).

Kehadiran GOL Lab tidak hanya mengurangi timbulan sampah yang diangkut ke TPA, tetapi juga sebuah upaya meningkatkan daya guna limbah. Terlebih lagi, pengolahan menggunakan teknologi GOL Lab terhitung cepat dibandingkan pengolahan lainnya. Untuk sampah organik misalnya, hanya butuh 2-3 jam proses hidrotermal dengan hasil olahan yang teruji kualitasnya.

Saat ini GOL Lab sudah tersebar di beberapa titik: KBP, Bank Sampah Bersinar di Jl. Terusan Bojongsoang Bandung, Karawang, dan juga Kuningan. Secara khusus GOL pun mengolah sampah dari Town Office Management (TOM) KBP. Bulan lalu kami pun mengolah foodwaste dari Hotel Mason Pine. Pupuk cair dari hasil olahan sampah organik sudah dimanfaatkan untuk kebutuhan internal.

Sampah yang dikumpulkan dari TOM KBP.

GOL juga memberikan percobaan gratis pengolahan limbah sisa makanan (foodwaste) dari Hotel Mason Pine. Pupuk yang dihasilkan lantas sudah dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan hotel.

Tak hanya itu, pada bulan Agustus lalu, kami pun melaksanakan program “Ayo Tukar Sampah!” untuk warga sekitar, yaitu program menukar 1 kg sampah organik dengan 1 L POC. Harapannya, warga merasakan sendiri manfaat dari hasil olahan sampah di GOL Lab.

Program tukar sampah organik menjadi pupuk cair.

GOL Lab tumbuh untuk memfasilitasi masyarakat dan produsen dalam mengelola sampah di hulu. Mari tinggalkan paradigma lama, saatnya mengolah sampah sejak dini di GOL Lab!

Indonesia Kita Jaga. Sampahnya Kita Olah. Guna Olah Limbah.

 

Referensi:
https://news.detik.com/berita/d-5046558/menteri-lhk-timbunan-sampah-di-indonesia-tahun-2020-capai-678-juta-ton

https://travel.detik.com/detiktravel/d-5152094/jumlah-penduduk-dunia-2020-indonesia-masih-empat-besar

https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/08/060000069/jumlah-penduduk-indonesia-2020

 

Bagikan halaman ini: