Pilih Laman

Sudah bukan rahasia lagi bahwa jenis sampah yang mendominasi di Indonesia adalah jenis sampah organik. Dari 64 juta ton sampah yang dihasilkan setiap tahun, komposisi sampah organik di Indonesia mencapai 60%, disusul oleh sampah plastik senilai 14%, sampah kertas 9%, dan karet 5,5% (katadata.co.id, 2019)

Namun, sebenarnya apa sih bahaya dari sampah organik yang tidak dikelola dengan baik?

Gambaran fenomena yang terjadi ketika tidak dilakukan pengelolaan terhadap sampah organik adalah pada peristiwa ledakan di TPA Leuwigajah 15 tahun lalu. Sampah dari Bandung Raya berkumpul di TPA yang terletak di Kota Cimahi. Tanpa disadari, tak hanya volumenya yang kian meningkat, dampak negatifnya bagi lingkungan pun akhirnya terjadi di bulan ke-2 tahun 2005.

Sampah organik yang tertumpuk di antara sampah lainnya akan memicu terjadinya reaksi anaerob yang menghasilkan gas metana (CH4). Dalam kondisi tersebut, gas metana yang bersifat mudah terbakar dan eksplosif akhirnya bereaksi dan menyebabkan longsor yang sangat dahsyat kala itu.

Saat itu, TPA Leuwigajah tidak mampu menerima sampah dari Bandung Raya selama beberapa minggu sehingga terjadilah fenomena Bandung Lautan Sampah.

Sampah yang tidak segera diolah sejatinya adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Padahal, beberapa jenis sampah masih memiliki nilai guna jika dikelola dengan baik.

Di GOL Lab, sampah organik akan diolah menggunakan dalam reactor hidrotermal dalam jangka waktu tak lebih dari 3 jam. Dalam waktu yang relative singkat tersebut, diperoleh pupuk organik cair yang kualitasnya sudah teruji!

Sampah organik yang kerap berakhir sembarangan yang malah membahayakan tidak berlaku di GOL Lab. Bagi GOL, sampah organik adalah berkah yang bisa diolah dan dimanfaatkan hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari. Selama di-OLAH langsung dari sumbernya, tidak ada lagi dampak negative dari sampah organik bagi lingkungan kita!

 

Indonesia Kita Jaga, Sampahnya Kita Olah.

Guna Olah Limbah.

Bagikan halaman ini: